Perkebunan karet alam berkelanjutan pertama di Indonesia

PINJAMAN 95 JUTA DOLAR AS USAHA PATUNGAN MICHELIN DAN BARITO PACIFIC

Pada tanggal 26 Februari, Tropical Landscapes Finance Facility (“TLFF”) mengumumkan transaksi perdananya, sebuah pinjaman penting senilai 95 juta dolar AS untuk membantu membiayai sebuah perkebunan karet alam berkelanjutan di dua lanskap yang sangat terdegradasi. Transaksi tersebut akan memasukkan tujuan dan kerangka pengaman sosial dan lingkungan yang telah ditetapkan dengan jelas.

Obligasi keberlanjutan dengan jangka waktu pembayaran yang panjang akan mendanai PT Royal Lestari Utama (“RLU”), sebuah usaha patungan di Indonesia antara Groupe Michelin dari Perancis (49%) dengan PT Barito Pacific dari Indonesia (51%) untuk perkebunan-perkebunan karet alam berkelanjutan di Provinsi Jambi di Pulau Sumatera dan Provinsi Kalimantan Timur. Dengan total luas perkebunan 88.000 hektar, 70.000 terletak di Jambi dan 18.000 di Kalimantan Timur.

Secara keseluruhan, hanya sekitar 34.000 ha yang akan ditanami karet, sedangkan sisanya akan dibiarkan untuk konservasi, restorasi, dan Program Kemitraan Masyarakat. Proyek ini dirancang untuk meningkatkan mata pencaharian bagi sekitar 50.000 masyarakat setempat dan menciptakan 16.000 lapangan kerja dengan upah yang adil. Di Jambi, perkebunan tersebut akan berfungsi sebagai zona penyangga yang penting untuk menghentikan spekulasi lahan lebih lanjut dan perambahan 143.000 ha Taman Nasional Bukit Tigapuluh (BTPNP) yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati, serta merupakan salah satu tempat terakhir di Indonesia untuk melihat gajah, harimau, dan orangutan Sumatera.

Luas lanskap BTP yang asli dan memiliki signifikansi ekologi adalah 400.000 hektar dan mencakup dua konsesi restorasi ekosistem WWF yang juga akan mendapatkan keuntungan dari perlindungan yang akan diberikan oleh perkebunan tersebut terhadap perambahan. Perlindungan akan berasal dari pekerja “lapangan” di perkebunan tersebut, petani kecil, dan wilayah tanah itu sendiri. WWF adalah mitra proyek sejak tahun 2015 dan telah bekerja bersama RLU untuk mencadangkan wilayah-wilayah HCV/HCS sebagai zona yang tidak boleh dimasuki untuk bercocok tanam.

Pada usia dewasa, perkebunan tersebut akan menyumbang 10% dari karet alam global yang dibeli oleh Michelin.

RLU, melalui perkebunan dan program petani kecilnya, menargetkan hasil panen karet tahunan yang lebih tinggi, yaitu 1,7 ton per hektar, dibandingkan dengan hasil panen saat ini di Indonesia sebesar 0,8 ton.

USAID telah menyediakan jaminan kredit untuk sebagian dari transaksi tersebut, yang diberi peringkat “Aaa” oleh Moody’s.

Vigeo Eiris, firma konsultasi lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola, telah menegaskan bahwa obligasi ini adalah “Surat Utang Keberlanjutan” dengan kontribusi positif pada pembangunan berkelanjutan dan diselaraskan dengan Panduan Obligasi Keberlanjutan.

Hadiputranto, Hadinoto & Partners memberikan dukungan pro bono penting dalam tahap-tahap awal Transaksi ini.

Royal Lestari Utama (RLU)

Obligasi Keberlanjutan dengan beberapa tahap pencairan yang disiapkan oleh BNP Paribas (BNPP) dan dikeluarkan oleh TLFF I Pte Ltd.

  • Untuk produksi karet alam yang cerdas iklim, ramah terhadap satwa liar, dan melibatkan berbagai pihak di Provinsi Jambi di Pulau Sumatera, dan Provinsi Kalimantan Timur.
  • Dari konsesi seluas 88.000 hektar, sekitar 45.000 hektar akan dicadangkan untuk mata pencaharian masyarakat dan konservasi.
  • Pada usia dewasa, perkebunan tersebut akan menyediakan 16.000 lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

East Kalimantan Estate

PT Multi Kusuma Cemerland ("MKC")
Total Area 18,045 ha / 9,000 ha

Jambi Estates

PT Lestari Asri Jaya ("LAJ")
PT Wanamukti Wisea ("WMW")
Total Area 70,758 ha / 35,000 ha